HIDUPKU UNTUK BERJUANG…
Oleh : Maria H. Mariyanti (Bu Yanti)
Oleh : Maria H. Mariyanti (Bu Yanti)
Saya mantan buruh Kalimanis Plywood grup. Saya kerja di PT.Santi Murni Plywood dan kemudian saya ikut bergabung dengan SBSI (Serikat Buruh Seluruh Indonesia) selama puluhan tahun. Semenjak saya bergabung di SBSI, saya tidak pernah mendapatkan pendidikan organisasi. Jadi keterlibatan saya di serikat tersebut hanya sebatas ikut-ikutan saja. Begitu perusahaan bergejolak, saya sangat kecewa dengan jajaran pengurus dalam SBSI tersebut. Dalam mengambil keputusan, saya berfikir ada apa dengan PT.Kalimanis yang berani dan terkenal menerima SV. Rimba Raya masuk ke PT.Kalimanis. katanya buruh itu untuk ongkos jahit aja.
Kalau menurut saya itu sangat merugikan pihak buruh. Buruh tetap (permanen) menjadi buruh kontrak. Seharusnya ketua serikat dan staffnya memperjuangkan nasib anggotanya. Setelah ada kesepakatan manajemen PT.Kalimanis dan SV. Rimba raya, saya kembali bekerja. Selang beberapa bulan perusahaan bergejolak kembali. Masalah pembayaran upah, lembur, dll. Disanalah kekecewaan saya dengan pengurus SBSI. Saya sudah malas berserikat. Dalam kebingungan saya, saya bertemu kawan dari serikat FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia). Dari situ saya mulai melakukan diskusi-diskusi dan mulai dari diskusi itu saya jadi mengerti tentang serikat. Setelah itu, saya kemudian membuat surat pernyataan pengunduran diri dari SBSI.
Yang tadinya saya malas untuk berserikat lagi, setelah saya mengerti pentingnya berserikat saya masuk FNPBI dan melanjutkan perjuangan buruh Kalimanis dengan melakukan aksi-aksi di instansi-instansi pemerintah dan berhasil mendapatkan upah selama 2 bulan yang ditunggak oleh SV. Rimba Raya, lalu berhasil mendapatkan THR. Melalui perjuangan yang panjang serta mengambil jalur hukum hingga bertahun-tahun. Organisasi mempertimbangkan mengingat kondisi kawan-kawan semakin lemah dan kebutuhan ekonomi semakin terhimpit, akhirnya organisasi mengambil keputusan bersama untuk PHK dan memang hasilnya tidak memuaskan untuk buruh.
Saya bekerja selama 20 tahun, dapat uang PHK Rp. 8.800.000 (Delapan juta delapan ratus ribu rupiah). Walaupun jumlah itu bagi saya tidak mencukupi dan tidak sesuai dengan pengorbanan saya, tapi saya tetap konsisten dalam organisasi. Perjuangan untuk melanjutkan perjuangan buruh di Kalimantan Timur tidak pernah luntur dihati.
Aktif di organisasi FNPBI, saya bisa keluar masuk instansi pemerintahan waktu perjuangan buruh Kalimanis. Hasilnya tidak maksimal dan dari situ saya mendapat banyak pengalaman dan pengetahuan. Satelah saya di PHK, kebusukan manajemen PT. Kalimanis akhirnya ketahuan juga. Gaji buruh selama 2 tahun di potong untuk JAMSOSTEK dan Tugu Mandiri dan ternyata gaji itu tidak disetorkan ke JAMSOSTEK dan Tugu Mandiri oleh manajemen PT.Kalimanis. dari sanalah saya merasa terpanggil untuk melanjutkan perjuangan buruh Kalimantan Timur.saya berpikir tidak lama lagi pasti buruh kaltim akan mengalami nasib seperti saya.tidak meleset yang ada di pikiran saya,buruh-buruh banyak yang di phk,sampai saat ini saya bersama buruh,
Setelah saya diphk saya tetap berorganisasi, saya sekarang anggota dan aktif diorganisasi FNPBI-PRM(1), saya perihatin dengan nasib rakyat Indonesia ternyata bukan hanya buruh aja yang tertindas tapi seluruh elemen masyarakat mengalami ketertindasan,saya sekarang berjuang bukan bersama buruh saja tetapi juga semua elemen masyarakat yang hidupnya tertindas kebijakan-kebijakan pemerintah yang anti rakyat,dimana-mana ada penggusuran,ada phk,biaya pendidikan mahal,harga kebutuhan pokok untuk rakyat selalu melambung tinggi,
Marilah kita bersatu berjuang untuk kesejahteraan dan kemerdekaan yang sejati. BRAVO SOSIALISME !!
catatan :
(1) Pada Tahun 2007, FNPBI mengalami perpecahan dari tingkat pusat hingga tingkat basis, akibat keinginan sebagian Pengurus maupun Anggota yang menghendaki FNPBI juga Partai Politik (PAPERNAS) yang di bangun oleh FNPBI beserta Organisasi-Organisasi Lainnya, bergabung dengan PBR, sekalipun PBR tidak menunjukan sebagai Partai Politik yang berpihak pada kaum buruh maupun rakyat miskin Indonesia. Sebagian Pengurus dan Anggota FNPBI yang menolak bergabung dengan PBR, kemudian mendirikan FNPBI-PRM ( FNPBI-Politik Rakyat Miskin), sebagai wadah sementara, sebelum terbentuk Serikat Buruh Nasional Baru, yang anti kooptasi,anti kooperasi dengan musuh-musuh rakyat. (editor)

|