JAKARTA - Janji partai politik memperjuangkan nasib buruh dinilai tak lebih dari isapan jempol semata. Tidak logis parpol berpihak pada buruh.
Pasalnya, mereka membutuhkan dana besar untuk membiayai kampanye dan menjalankan program kerja. Adapun pundi-pundi dana salah satunya ada ditangan pengusaha.
"Secara logika parpol membutuhkan dana besar. Dapatnya dari mana? Kalau tidak dari hasil korupsi, ya minta kepada pengusaha. Jadi tidak mungkin parpol berpihak pada kepentingan buruh. Secara umum parpol lebih banyak terkooptasi kepentingan pengusaha," terang Koordinator Aliansi Buruh Menggugat Jawa Timur, Jamaluddin kepada okezone via telepon, Senin (15/12/2008).
Fenomena parpol mencoba merangkul buruh, menurut Jamal, hanya karena faktor kebutuhan untuk mengantarkan para caleg menuju kursi di parlemen. Bukan karena tujuan lain. "Ya dilematis karena parpol juga butuh suara kaum buruh," urainya.
Oleh karena itu, keberadaan organisasi sayap buruh diparpol atau caleg berlatarbelakang buruh tidak akan berpengaruh terhadap arah kebijakan parpol.
"Yang ada buruh hanya dijadikan alat pendulang suara dan saya yakin organisasi seperti itu akan rontok dengan sendirinya," ungkapnya.
|