MOJOKERTO, JATIM — Sekitar 70 buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Tempat Kerja (SBTK) PT Indra Kila yang berada di Jl Majapahit, Kota Mojokerto, mengajak seluruh buruh yang ada di Kota Mojokerto, untuk menolak Pemilu, Sabtu (28/3).
Mereka turun jalan dan membacakan peryataan sikap menolak Pemilu di depan pabrik dan membagi-bagikan brosur peryataan sikap mereka kepada pengguna jalan yang lalu lalang di sepanjang Jl Majapahit Kota Mojokerto.
Koordinator aksi, Karso Setiawan, mengatakan, pihaknya menolak Pemilu karena Pemilu dinilai tidak menjawab persoalan yang dialami buruh saat ini. Selain itu, Pemilu hanya pesta para elit yang berduit.
Mereka turun jalan dan membacakan peryataan sikap menolak Pemilu di depan pabrik dan membagi-bagikan brosur peryataan sikap mereka kepada pengguna jalan yang lalu lalang di sepanjang Jl Majapahit Kota Mojokerto.
Koordinator aksi, Karso Setiawan, mengatakan, pihaknya menolak Pemilu karena Pemilu dinilai tidak menjawab persoalan yang dialami buruh saat ini. Selain itu, Pemilu hanya pesta para elit yang berduit.
“Pemilu tidak menjawab persoalan buruh, Pemilu hanya pesta para orang berduit,” kata Karso.
Selain tidak bisa menjawab persoalan buruh, menurut Karso, semua calon legislatif (caleg) dan partai politik (parpol) yang ada tidak peduli dengan buruh. Para elit politik dinilai sebagai kelompok elit politik lama yang telah dipilih rakyat pada Pemilu 2004 lalu.
Dalam perjalanannya, kata Karso, ternyata para elit politik yang berhasil menjadi wakil rakyat dari DPRD kabupaten, propinsi hingga DPR RI dinilai tidak bisa mengemban amanat dan aspirasi rakyat bahkan tidak bisa memperjuangkan buruh.
“Para elit politik itu tidak bisa memperjuangkan kita, makanya kita tolak Pemilu kalau Pemilu cuma untuk mencari kekuasaan,” tegas Karso.
Seharusnya Pemilu kali ini, menurut Karso, adalah media mencari solusi atas permasalahan-permaslahan yang terjadi bukan mencari siapa yang akan menguasai.
Karso menegaskan, kini pihaknya terus menyuarakan tolak Pemilu dengan berkoordinasi dengan serikat-serikat buruh yang ada di Kota Mojokerto dan akan mengelar aksi lebih besar lagi pada 4 April 2009.
“Kita akan berkosolidasi dengan semua serikat agar semua buruh menolak Pemilu,” kata Karso.kp011
Selain tidak bisa menjawab persoalan buruh, menurut Karso, semua calon legislatif (caleg) dan partai politik (parpol) yang ada tidak peduli dengan buruh. Para elit politik dinilai sebagai kelompok elit politik lama yang telah dipilih rakyat pada Pemilu 2004 lalu.
Dalam perjalanannya, kata Karso, ternyata para elit politik yang berhasil menjadi wakil rakyat dari DPRD kabupaten, propinsi hingga DPR RI dinilai tidak bisa mengemban amanat dan aspirasi rakyat bahkan tidak bisa memperjuangkan buruh.
“Para elit politik itu tidak bisa memperjuangkan kita, makanya kita tolak Pemilu kalau Pemilu cuma untuk mencari kekuasaan,” tegas Karso.
Seharusnya Pemilu kali ini, menurut Karso, adalah media mencari solusi atas permasalahan-permaslahan yang terjadi bukan mencari siapa yang akan menguasai.
Karso menegaskan, kini pihaknya terus menyuarakan tolak Pemilu dengan berkoordinasi dengan serikat-serikat buruh yang ada di Kota Mojokerto dan akan mengelar aksi lebih besar lagi pada 4 April 2009.
“Kita akan berkosolidasi dengan semua serikat agar semua buruh menolak Pemilu,” kata Karso.kp011
|