Menanti Badai Pemecatan
INILAH.COM, Jakarta - Percaya atau tidak, ancaman PHK besar-besaran di depan mata. Krisis ekonomi yang melanda negara-negara maju, terutama Amerika dan Uni Eropa, membuat ekspor dari 10 negara di kawasan Asia Tenggara turun tajam.
Dampaknya jelas, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan terjadi PHK besar-besaran. Pekan lalu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) meramalkan sekitar 20 juta orang akan kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi.
Terkait dengan negara-negara di Asia Tenggara, ILO memperkirakan tahun depan akan terjadi peningkatan pengangguran dari 5,7% saat ini menjadi 6,2%. “Ekonomi negara-negara di Asia Tenggara menghadapi perlambatan akibat buruknya ekspor,” demikian keterangan ILO.
Di Indonesia, dampak krisis ekonomi global sudah terasa di sejumlah industri. Di Plered Purwakarta, kawasan industri keramik di Jawa Barat, 9 dari 15 perusahaan yang memasarkan produknya ke luar negeri telah menghentikan aktivitasnya.
Sementara itu dari pusat pertekstilan di Jawa Barat tersiar kabar bahwa 70 ribu tenaga kerja di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan akibat turunnya ekspor ke Amerika.
Jika PHK besar-besaran terjadi, jelas hal itu akan mendongkrak angka pengangguran. Tahun lalu, tingkat penganguran absolut diperkirakan sudah mencapai 8,3% dari jumlah angkatan kerja.
Di luar itu ada pengangguran terselubung yakni memiliki pekerjaan namun dengan pendapatan di bawah standar. Nah, jika penganggur absolut dan terselubung itu digabung, syahdan, angkanya bisa mencapai 30% dari jumlah angkatan kerja.
Kalau perkiraan tadi benar, maka ini alamat gawat. Sebab, ILO pernah menetapkan batas aman tingkat pengangguran pada satu negara tak boleh lebih dari 20% dari total angkatan kerjanya.
Nah, kalau angka itu sampai terlewati, maka bukan saja pemulihan ekonomi yang akan tersendat, tapi negara ini juga berpotensi mengalami ledakan sosial. [E1]
70.000 Buruh Terancam PHK
JAKNEWS.COM--Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Daerah Jawa Barat Ade Sudrajat memperkirakan, pada awal 2009 sekitar 70.000 tenaga kerja di provinsi itu terancam terkena pemutusan hubungan kerja. Kondisi itu terjadi akibat krisis global yang membuat beban perusahaan semakin berat.
”Pengusaha terpaksa melakukan berbagai efisiensi, termasuk perampingan jumlah tenaga kerja. Salah satunya karena kegiatan produksi akan dikurangi, bahkan ada yang dihentikan,” kata Ade di Bandung, Rabu (22/10).
Ade memperkirakan kondisi itu bisa semakin parah jika krisis di Amerika Serikat dan Eropa tak tertolong. Konsekuensi PHK terpaksa dilakukan atau setidaknya sebagian besar karyawan dirumahkan sementara.
Jabar adalah sentra industri tekstil utama di Indonesia dengan lebih dari 700 pabrik tekstil dan menyerap sekitar 700.000 tenaga kerja. Dampak krisis di AS terasa karena ekspor terbesar tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar disalurkan ke negara itu.
”Jumlahnya memang hanya 4 persen dari Jabar, tetapi nilainya yang besar. Pada 2007, total nilai ekspor tekstil Jabar mencapai 4,72 miliar dollar AS. Produk yang diimpor dari Indonesia antara lain kemeja, blus, piyama, dan baju hangat,” kata Ade.
Pilihan untuk mencari pasar lain di luar AS juga belum tentu bisa menyelamatkan industri TPT. Menurut Ade, sebenarnya terdapat pertumbuhan ekspor TPT Jabar ke AS sebesar 2 persen pada 2008. Pertumbuhan itu terancam setelah krisis terjadi. Turunnya daya beli masyarakat AS membuat pembelian sandang di negara itu berkurang.
Ketua Perhimpunan Pengusaha Tekstil Majalaya, Bandung, Deden Suwega, menyatakan, mata pencaharian sekitar 50.000 perajin tekstil dari sekitar 150 industri kecil dan menengah (IKM) di wilayahnya terancam. Melonjaknya harga bahan baku impor akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi membengkak hingga 20 persen.
”Industri tekstil termasuk padat karya. Bisa dibayangkan jika kondisi krisis tak segera diatasi. Pengangguran akan bertambah dan angka kemiskinan meningkat,” tutur Deden.
Sejumlah pengusaha keramik di Kabupaten Purwakarta bahkan telah meliburkan karyawan dan tidak tahu kapan akan mempekerjakan mereka kembali. Menurut Eman Sulaeman, Ketua Pokja Klaster Keramik Plered, lesunya permintaan ekspor dan pasar domestik membuat pengusaha tak tahu kapan bisa mempekerjakan karyawan kembali.
Ia menambahkan, dari 15 pengusaha yang biasa membuat produk pesanan eksportir, kini hanya enam pengusaha yang masih berproduksi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Purwakarta, Soekoyo, Selasa, mengatakan, sejauh ini belum ada laporan PHK di 318 perusahaan yang mempekerjakan 155.000 orang di daerahnya.
Kerajinan songket di Palembang, Sumatera Selatan, kini juga terkena dampak krisis finansial global. Menurut Asmi Astari, pemilik gerai produksi dan penjualan Astari Songket, Rabu, sepekan ini dia menghentikan produksi tenun songket karena stok berlebih. Itu terjadi karena sebagian pembeli luar negeri menghentikan pembelian sejak berlangsungnya krisis global.
Ribuan Buruh Rotan Terancam PHK
http://www.export-import-indonesia.com
Ribuan buruh rotan di sentra kerajinan rotan nasional di Kab. Cirebon terancam kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ancaman itu muncul akibat semakin turunnya volume ekspor rotan serta adanya kenaikan harga sembako akhir-akhir ini.
Berdasarkan data di Asosiasi Mebeler Indonesia (Asmindo) Cirebon, ekspor rotan turun hingga lebih dari 70%. Kemerosotan volume ekspor terjadi selama tiga tahun terakhir dan terparah sepanjang tahun 2007 baru lalu.
"Dari rata-rata per bulan di atas 2.000 kontainer, sekarang maksimal hanya 300 kontainer. Tiga tahun ini memang malapetaka bagi industri rotan, terjadi sejak pemerintah membuka kran ekspor rotan bahan baku," tutur Sekretaris Asmindo setempat, H. Solihin, Kamis (7/2).
Sedangkan menurut salah seorang pengusaha rotan. H. Sobur Koswara turunnya volume ekspor membuat sedikitnya 170 perusahaan perajin rotan kelimpungan. Belakangan hal itu semakin diperparah oleh kenaikan harga sembako yang memicu hampir seluruh barang sehingga ongkos produksi membengkak.
"Perusahaan dalam posisi terjepit. Di satu sisi ekspor turun, order sepi, tetapi ongkos produksi bertambah. Belum lagi beban rutin seperti gaji karyawan. Kenaikan sembako memicu seluruh harga barang," tuturnya.
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Kab. Cirebon Drs. H. Dudung Mulyana. situasi serbasulit itu memaksa perusahaan melakukan rasionalisasi. Faktor tenaga kerja, kini menjadi objek rasionalisasi perusahaan. "Kita banyak terima keluhan dari buruh rotan. Rasionalisasi perusahaan rata-rata dimulai dari pengurangan jumlah buruh," katanya.
50.000 buruh
Dudung menuturkan, berdasarkan data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asmindo Cirebon, sedikitnya 50.000 buruh rotan terancam PHK. Mereka kini bekerja dalam ketidakpastian. Bahkan jam kerjanya sudah tidak jelas. "Itu belum jumlah buruh yang statusnya sudah setengah pengangguran. Kalau dijumlahkan bisa mencapai ratusan ribu orang," tutur dia.
Dikatakannya, kerajinan rotan yang dikerjakan secara home industri bahkan sudah lumpuh sejak dua tahun lalu. Akibatnya, terjadi ledakan pengangguran di kecamatan sentra rotan di wilayah barat Cirebon, seperti Plumbon, Sumber, Tengahtani, Plered, sampai Palimanan.
"Dulu mencari pembantu dari kecamatan di wilayah barat sangat susah, semua milih terjun di rotan. Sekarang tenaga pembantu sangat banyak. PHK massal sejak tiga tahun terakhir terjadi tiap saat," tutur Dudung yang didampingi stafnya H. Moh. Zaenudin, Mj. dan Samadi.
Ditambahkan Zaenudin, kenaikan harga sembako belakangan ini memperbesar ancaman PHK pada perusahaan rotan yang masih bisa bertahan. Ribuan buruh rotan yang masih bisa bekerja sudah mulai resah, sebab isu PHK mulai santer terdengar di tiap-tiap perusahaan.
"Dari sekitar 170 perusahaan rotan, yang masih bisa bertahan tidak lebih dari 30 buah. Itu pun kelimpungan karena pasar mereka kalah oleh rotan produksi Cina dan Vietnam," katanya. (A-93)
Sementara itu dari pusat pertekstilan di Jawa Barat tersiar kabar bahwa 70 ribu tenaga kerja di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan akibat turunnya ekspor ke Amerika.
Jika PHK besar-besaran terjadi, jelas hal itu akan mendongkrak angka pengangguran. Tahun lalu, tingkat penganguran absolut diperkirakan sudah mencapai 8,3% dari jumlah angkatan kerja.
Di luar itu ada pengangguran terselubung yakni memiliki pekerjaan namun dengan pendapatan di bawah standar. Nah, jika penganggur absolut dan terselubung itu digabung, syahdan, angkanya bisa mencapai 30% dari jumlah angkatan kerja.
Kalau perkiraan tadi benar, maka ini alamat gawat. Sebab, ILO pernah menetapkan batas aman tingkat pengangguran pada satu negara tak boleh lebih dari 20% dari total angkatan kerjanya.
Nah, kalau angka itu sampai terlewati, maka bukan saja pemulihan ekonomi yang akan tersendat, tapi negara ini juga berpotensi mengalami ledakan sosial. [E1]
70.000 Buruh Terancam PHK
JAKNEWS.COM--Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Daerah Jawa Barat Ade Sudrajat memperkirakan, pada awal 2009 sekitar 70.000 tenaga kerja di provinsi itu terancam terkena pemutusan hubungan kerja. Kondisi itu terjadi akibat krisis global yang membuat beban perusahaan semakin berat.
”Pengusaha terpaksa melakukan berbagai efisiensi, termasuk perampingan jumlah tenaga kerja. Salah satunya karena kegiatan produksi akan dikurangi, bahkan ada yang dihentikan,” kata Ade di Bandung, Rabu (22/10).
Ade memperkirakan kondisi itu bisa semakin parah jika krisis di Amerika Serikat dan Eropa tak tertolong. Konsekuensi PHK terpaksa dilakukan atau setidaknya sebagian besar karyawan dirumahkan sementara.
Jabar adalah sentra industri tekstil utama di Indonesia dengan lebih dari 700 pabrik tekstil dan menyerap sekitar 700.000 tenaga kerja. Dampak krisis di AS terasa karena ekspor terbesar tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar disalurkan ke negara itu.
”Jumlahnya memang hanya 4 persen dari Jabar, tetapi nilainya yang besar. Pada 2007, total nilai ekspor tekstil Jabar mencapai 4,72 miliar dollar AS. Produk yang diimpor dari Indonesia antara lain kemeja, blus, piyama, dan baju hangat,” kata Ade.
Pilihan untuk mencari pasar lain di luar AS juga belum tentu bisa menyelamatkan industri TPT. Menurut Ade, sebenarnya terdapat pertumbuhan ekspor TPT Jabar ke AS sebesar 2 persen pada 2008. Pertumbuhan itu terancam setelah krisis terjadi. Turunnya daya beli masyarakat AS membuat pembelian sandang di negara itu berkurang.
Ketua Perhimpunan Pengusaha Tekstil Majalaya, Bandung, Deden Suwega, menyatakan, mata pencaharian sekitar 50.000 perajin tekstil dari sekitar 150 industri kecil dan menengah (IKM) di wilayahnya terancam. Melonjaknya harga bahan baku impor akibat anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat biaya produksi membengkak hingga 20 persen.
”Industri tekstil termasuk padat karya. Bisa dibayangkan jika kondisi krisis tak segera diatasi. Pengangguran akan bertambah dan angka kemiskinan meningkat,” tutur Deden.
Sejumlah pengusaha keramik di Kabupaten Purwakarta bahkan telah meliburkan karyawan dan tidak tahu kapan akan mempekerjakan mereka kembali. Menurut Eman Sulaeman, Ketua Pokja Klaster Keramik Plered, lesunya permintaan ekspor dan pasar domestik membuat pengusaha tak tahu kapan bisa mempekerjakan karyawan kembali.
Ia menambahkan, dari 15 pengusaha yang biasa membuat produk pesanan eksportir, kini hanya enam pengusaha yang masih berproduksi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Purwakarta, Soekoyo, Selasa, mengatakan, sejauh ini belum ada laporan PHK di 318 perusahaan yang mempekerjakan 155.000 orang di daerahnya.
Kerajinan songket di Palembang, Sumatera Selatan, kini juga terkena dampak krisis finansial global. Menurut Asmi Astari, pemilik gerai produksi dan penjualan Astari Songket, Rabu, sepekan ini dia menghentikan produksi tenun songket karena stok berlebih. Itu terjadi karena sebagian pembeli luar negeri menghentikan pembelian sejak berlangsungnya krisis global.
Ribuan Buruh Rotan Terancam PHK
http://www.export-import-indonesia.com
Ribuan buruh rotan di sentra kerajinan rotan nasional di Kab. Cirebon terancam kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ancaman itu muncul akibat semakin turunnya volume ekspor rotan serta adanya kenaikan harga sembako akhir-akhir ini.
Berdasarkan data di Asosiasi Mebeler Indonesia (Asmindo) Cirebon, ekspor rotan turun hingga lebih dari 70%. Kemerosotan volume ekspor terjadi selama tiga tahun terakhir dan terparah sepanjang tahun 2007 baru lalu.
"Dari rata-rata per bulan di atas 2.000 kontainer, sekarang maksimal hanya 300 kontainer. Tiga tahun ini memang malapetaka bagi industri rotan, terjadi sejak pemerintah membuka kran ekspor rotan bahan baku," tutur Sekretaris Asmindo setempat, H. Solihin, Kamis (7/2).
Sedangkan menurut salah seorang pengusaha rotan. H. Sobur Koswara turunnya volume ekspor membuat sedikitnya 170 perusahaan perajin rotan kelimpungan. Belakangan hal itu semakin diperparah oleh kenaikan harga sembako yang memicu hampir seluruh barang sehingga ongkos produksi membengkak.
"Perusahaan dalam posisi terjepit. Di satu sisi ekspor turun, order sepi, tetapi ongkos produksi bertambah. Belum lagi beban rutin seperti gaji karyawan. Kenaikan sembako memicu seluruh harga barang," tuturnya.
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Kab. Cirebon Drs. H. Dudung Mulyana. situasi serbasulit itu memaksa perusahaan melakukan rasionalisasi. Faktor tenaga kerja, kini menjadi objek rasionalisasi perusahaan. "Kita banyak terima keluhan dari buruh rotan. Rasionalisasi perusahaan rata-rata dimulai dari pengurangan jumlah buruh," katanya.
50.000 buruh
Dudung menuturkan, berdasarkan data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asmindo Cirebon, sedikitnya 50.000 buruh rotan terancam PHK. Mereka kini bekerja dalam ketidakpastian. Bahkan jam kerjanya sudah tidak jelas. "Itu belum jumlah buruh yang statusnya sudah setengah pengangguran. Kalau dijumlahkan bisa mencapai ratusan ribu orang," tutur dia.
Dikatakannya, kerajinan rotan yang dikerjakan secara home industri bahkan sudah lumpuh sejak dua tahun lalu. Akibatnya, terjadi ledakan pengangguran di kecamatan sentra rotan di wilayah barat Cirebon, seperti Plumbon, Sumber, Tengahtani, Plered, sampai Palimanan.
"Dulu mencari pembantu dari kecamatan di wilayah barat sangat susah, semua milih terjun di rotan. Sekarang tenaga pembantu sangat banyak. PHK massal sejak tiga tahun terakhir terjadi tiap saat," tutur Dudung yang didampingi stafnya H. Moh. Zaenudin, Mj. dan Samadi.
Ditambahkan Zaenudin, kenaikan harga sembako belakangan ini memperbesar ancaman PHK pada perusahaan rotan yang masih bisa bertahan. Ribuan buruh rotan yang masih bisa bekerja sudah mulai resah, sebab isu PHK mulai santer terdengar di tiap-tiap perusahaan.
"Dari sekitar 170 perusahaan rotan, yang masih bisa bertahan tidak lebih dari 30 buah. Itu pun kelimpungan karena pasar mereka kalah oleh rotan produksi Cina dan Vietnam," katanya. (A-93)
|