Buruh Lumpuhkan Kota
Tuesday, 25 November 2008
Tuesday, 25 November 2008
MOJOKERTO (SINDO) – Ancaman buruh Mojokerto akan menggelar demo besarbesaran terbukti.Kemarin ribuan buruh dan mahasiswa lumpuhkan Kota Mojokerto.
Para pendemo yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM) dan sejumlah mahasiswa ini memulai aksi sekitar pukul 09.00 WIB. Sebelum aksi, mereka sempat melakukan sweeping di sejumlah perusahaan untuk menambah dukungan. Namun, upaya buruh ini berkali- kali mendapat halangan dari pihak kepolisian. Banyaknya buruh dan mahasiswa yang terlibat aksi ini kontan saja membuat macet di jalanan. Sekitar 1 jam, Jalan Pahlawan macet total.
Rombongan buruh yang menggunakan kendaraan roda dua menutupi jalan, lantaran mereka hendak melakukan sweeping di PT Bokor Mas. Namun, kali ini buruh gagal mendapat dukungan dari karyawan Bokor Mas lantaran kemacetan panjang yang dikeluhkan polisi. Aksi pertama,mereka menuju Kantor Pemkot Mojokerto untuk menyampaikan penolakan terhadap surat kesepakatan bersama (SKB) empat menteri.Mereka juga menuntut Pj Wali Kota Mojokerto untuk menandatangani penolakan pemberlakuan SKB itu.
Sayangnya, empat perwakilan dari buruh yang melakukan negosiasi dengan pihak Pemkot gagal. Pj Wali Kota yang diwakili Asisten I Budiman tak berkenan memberikan dukungan secara tertulis kepada buruh. ”Itu bukan wewenang kami,”kata Budiman. Alasan penolakan lainnya, dia mengaku belum mengetahui isi dari SKB empat menteri tersebut. Jawaban tak memuaskan ini justru memantik reaksi buruh. Mereka keluar ruangan dan menggelar orasi yang menilai Pemkot Mojokerto tak memiliki keberpihakan terhadap buruh.
Aksi Ricuh, Mahasiswa Dipukul
Di tengah aksi berlangsung, beberapa mahasiswa memaksa masuk ke halaman Kantor Pemkot. Mereka berniat menurunkan bendera merah putih setengah tiang. Namun, upaya ini langsung dihalang-halangi polisi dan petugas Satpol PP yang berjaga sejak pagi hari. Bentrok pun tak dapat dielakkan.
Polisi langsung meringkus beberapa mahasiswa yang nyaris berhasil menarik tali bendera. Polisi sempat terpancing emosi saat salah satu mahasiswa berontak ingin lepas dari petugas. Salah satu mahasiswa Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Suntoro, mendapat pukulan dari polisi.
Tak hanya itu,Kapolresta Mojokerto AKBP Sulistyandri sempat juga melayangkan pukulan kepada Suntoro. Aksi terus memanas saat pendemo memaksa polisi untuk melepaskan Suntoro.Buruh bahkan sempat mengancam akan berbuat anarkistis jika salah satu temannya itu tak dilepas.Polisi pun keder. Suntoro langsung dilepas, setelah sebelumnya sempat dikurung di posko Satpol PP.
Aksi terus berlanjut.Massa merangsek menuju Kantor Pemkab Mojokerto untuk meminta Bupati Mojokerto Suwandi agar mau menandatangani penolakan SKB empat menteri.Sayangnya,lagilagi mereka menemui jalan buntu.Tanpa ditemui Bupati, pihak Pemkab tak mau menuruti tuntutan buruh. Ketegangan kembali terjadi saat massa berusaha mendobrak pintu pagar Pemkab.
Salah satu anggota polisi kembali melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yang berada di garis depan massa. Beruntung ketegangan ini tak berlangsung lama setelah beberapa perwira polisi meredam kedua kubu yang berseteru. Mustofa, Koordinator Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia Independen (FNPBI-Independen) Kota Mojokerto mengatakan, dia merasa kecewa dengan dua pucuk kepala daerah yang enggan menemui perwakilan buruh.Kekecewaan lainnya, dia merasa dua kepala daerah ini sama sekali tak berpihak kepada buruh yang saat ini sedang resah dengan terbitnya SKB empat menteri.
”Ini bukti bahwa pemerintah daerah tak mau tahu dengan nasib buruh,” kata Mustofa, salah satu perwakilan buruh yang sempat menemui perwakilan dari Pemkab dan Pemkot Mojokerto. Terhadap pemukulan yang dialami beberapa mahasiswa, Koordinator ABM Afik Irwanto mengaku telah melaporkan kekerasan tersebut kepada ABM Pusat.Lebih dari itu, pihaknya juga akan melakukan advokasi hukum terhadap tiga mahasiswa yang menjadi korban pemukulan polisi.
”Kami akan mengirim surat ke Kapolri dan Komnas HAM. Salah satunya,kami akan meminta Kapolresta Mojokerto untuk dicopot,”ujar Afik. Dia mengaku, sedikitnya ada tiga mahasiswa yang sempat mengalami kekerasan dari polisi, di antaranya Suntoro, Nur Hidayat, dan Muhammad Fathoni. Ketiganya merupakan mahasiswa UNIM dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
”Tak hanya polisi, Satpol PP juga melakukan kekerasan,”katanya. Kapolresta Mojokerto AKBP Sulistyandri sendiri membantah jika dirinya melakukan pemukulan terhadap salah satu mahasiswa. Dia berdalih, hanya berusaha membuka helm yang dipakai pendemo. ”Biar dia bertanggung jawab.
Masa melakukan sesuatu dengan muka yang tertutup. Kalau ada yang akan menurunkan bendera merah putih, saya tidak akan membiarkan,” tandasnya beberapa saat setelah aksi pemukulan terjadi. (tritus julan)
Para pendemo yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM) dan sejumlah mahasiswa ini memulai aksi sekitar pukul 09.00 WIB. Sebelum aksi, mereka sempat melakukan sweeping di sejumlah perusahaan untuk menambah dukungan. Namun, upaya buruh ini berkali- kali mendapat halangan dari pihak kepolisian. Banyaknya buruh dan mahasiswa yang terlibat aksi ini kontan saja membuat macet di jalanan. Sekitar 1 jam, Jalan Pahlawan macet total.
Rombongan buruh yang menggunakan kendaraan roda dua menutupi jalan, lantaran mereka hendak melakukan sweeping di PT Bokor Mas. Namun, kali ini buruh gagal mendapat dukungan dari karyawan Bokor Mas lantaran kemacetan panjang yang dikeluhkan polisi. Aksi pertama,mereka menuju Kantor Pemkot Mojokerto untuk menyampaikan penolakan terhadap surat kesepakatan bersama (SKB) empat menteri.Mereka juga menuntut Pj Wali Kota Mojokerto untuk menandatangani penolakan pemberlakuan SKB itu.
Sayangnya, empat perwakilan dari buruh yang melakukan negosiasi dengan pihak Pemkot gagal. Pj Wali Kota yang diwakili Asisten I Budiman tak berkenan memberikan dukungan secara tertulis kepada buruh. ”Itu bukan wewenang kami,”kata Budiman. Alasan penolakan lainnya, dia mengaku belum mengetahui isi dari SKB empat menteri tersebut. Jawaban tak memuaskan ini justru memantik reaksi buruh. Mereka keluar ruangan dan menggelar orasi yang menilai Pemkot Mojokerto tak memiliki keberpihakan terhadap buruh.
Aksi Ricuh, Mahasiswa Dipukul
Di tengah aksi berlangsung, beberapa mahasiswa memaksa masuk ke halaman Kantor Pemkot. Mereka berniat menurunkan bendera merah putih setengah tiang. Namun, upaya ini langsung dihalang-halangi polisi dan petugas Satpol PP yang berjaga sejak pagi hari. Bentrok pun tak dapat dielakkan.
Polisi langsung meringkus beberapa mahasiswa yang nyaris berhasil menarik tali bendera. Polisi sempat terpancing emosi saat salah satu mahasiswa berontak ingin lepas dari petugas. Salah satu mahasiswa Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Suntoro, mendapat pukulan dari polisi.
Tak hanya itu,Kapolresta Mojokerto AKBP Sulistyandri sempat juga melayangkan pukulan kepada Suntoro. Aksi terus memanas saat pendemo memaksa polisi untuk melepaskan Suntoro.Buruh bahkan sempat mengancam akan berbuat anarkistis jika salah satu temannya itu tak dilepas.Polisi pun keder. Suntoro langsung dilepas, setelah sebelumnya sempat dikurung di posko Satpol PP.
Aksi terus berlanjut.Massa merangsek menuju Kantor Pemkab Mojokerto untuk meminta Bupati Mojokerto Suwandi agar mau menandatangani penolakan SKB empat menteri.Sayangnya,lagilagi mereka menemui jalan buntu.Tanpa ditemui Bupati, pihak Pemkab tak mau menuruti tuntutan buruh. Ketegangan kembali terjadi saat massa berusaha mendobrak pintu pagar Pemkab.
Salah satu anggota polisi kembali melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yang berada di garis depan massa. Beruntung ketegangan ini tak berlangsung lama setelah beberapa perwira polisi meredam kedua kubu yang berseteru. Mustofa, Koordinator Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia Independen (FNPBI-Independen) Kota Mojokerto mengatakan, dia merasa kecewa dengan dua pucuk kepala daerah yang enggan menemui perwakilan buruh.Kekecewaan lainnya, dia merasa dua kepala daerah ini sama sekali tak berpihak kepada buruh yang saat ini sedang resah dengan terbitnya SKB empat menteri.
”Ini bukti bahwa pemerintah daerah tak mau tahu dengan nasib buruh,” kata Mustofa, salah satu perwakilan buruh yang sempat menemui perwakilan dari Pemkab dan Pemkot Mojokerto. Terhadap pemukulan yang dialami beberapa mahasiswa, Koordinator ABM Afik Irwanto mengaku telah melaporkan kekerasan tersebut kepada ABM Pusat.Lebih dari itu, pihaknya juga akan melakukan advokasi hukum terhadap tiga mahasiswa yang menjadi korban pemukulan polisi.
”Kami akan mengirim surat ke Kapolri dan Komnas HAM. Salah satunya,kami akan meminta Kapolresta Mojokerto untuk dicopot,”ujar Afik. Dia mengaku, sedikitnya ada tiga mahasiswa yang sempat mengalami kekerasan dari polisi, di antaranya Suntoro, Nur Hidayat, dan Muhammad Fathoni. Ketiganya merupakan mahasiswa UNIM dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
”Tak hanya polisi, Satpol PP juga melakukan kekerasan,”katanya. Kapolresta Mojokerto AKBP Sulistyandri sendiri membantah jika dirinya melakukan pemukulan terhadap salah satu mahasiswa. Dia berdalih, hanya berusaha membuka helm yang dipakai pendemo. ”Biar dia bertanggung jawab.
Masa melakukan sesuatu dengan muka yang tertutup. Kalau ada yang akan menurunkan bendera merah putih, saya tidak akan membiarkan,” tandasnya beberapa saat setelah aksi pemukulan terjadi. (tritus julan)
|